Nasional

Indonesia Dianggap Tak Mampu Kendalikan COVID-19, Warga Asing Dijemput pulang

Dilansir dari Liputan6.com Rekor demi rekor terus dicapai. Bukan prestasi, tapi kasus positif COVID-19 yang terus melonjak di Indonesia. Pada Kamis 15 Juli 2021, angka kasus baru mencapai 56.757 orang. Kenaikan tertinggi yang pernah dilaporkan sepanjang pandemi.

Kondisi tersebut menjadi sorotan organisasi kesehatan dunia WHO. Mereka menyebut Indonesia sedang mengalami situasi sulit. “Indonesia sedang mengalami fase peningkatan penularan yang sangat intens selama beberapa pekan terakhir,” kata Direktur Eksekutif Program Kedaruratan Kesehatan WHO Mike Ryan di Jenewa, Swiss.

Menurut Ryan, lonjakan kasus COVID-19 di Indonesia juga didorong karena adanya berbagai varian SARS-CoV-2 yang berujung pada tingginya angka kematian harian. “Kebanyakan dari kematian tersebut lagi-lagi terjadi pada kelompok masyarakat rentan, lansia, dan orang-orang dengan kondisi bawaan.”

Indonesia pun kini dianggap sudah menggeser India sebagai episentrum COVID-19 di Asia. “Angka-angka tersebut belum termasuk catatan buruk Indonesia dalam testing dan tracing. Positivity rate negara Asia Tenggara itu — persentase infeksi yang terkonfirmasi vs orang yang dites — telah mencapai 30 persen selama sepekan terakhir, sementara angka di India adalah 2 persen,” tulis media Jepang, Nikkei Asia pada artikel berjudul “Indonesia overtakes India to become Asia’s COVID epicenter”.

Pemerintah Jepang langsung bergerak. Mereka memulangkan warganya dari Indonesia mulai Rabu 14 Juli. Kepala Sekretaris Kabinet Jepang Katsunobu Sato berkata, pemerintah Jepang akan mendukung adanya penerbangan khusus bagi warga yang ingin pulang dari Indonesia akibat lonjakan kasus COVID-19.

“Dari sudut pandang untuk melindungi warga Jepang, kami telah memutuskan untuk mengambil tindakan-tindakan … Jadi orang Jepang yang ingin pulang bisa pulang secepat mungkin, dan sebanyak-banyaknya,” ujar Sato.

Menurut Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI Teuku Faizasyah, evakuasi yang dilakukan pemerintah Jepang merupakan bentuk perlindungan terhadap warga negaranya. “Seperti yang kita sama-sama baca dari keterangan pihak Jepang, kepulangan tersebut dilakukan secara mandiri dan juga diorganisair oleh pihak swasta Jepang,” katanya kepada Liputan6.com.

Selain Jepang, Arab Saudi juga melakukan hal serupa. Seorang warga negara Arab Saudi yang terinfeksi COVID-19 berhasil dievakuasi dari Indonesia pada Sabtu 10 Juli 2021.

Dikutip dari laman Saudi Gazette, Kamis (15/7/2021) warga yang tidak disebutkan identitasnya itu berhasil dipulangkan dengan selamat. Menindaklanjuti arahan Putra Mahkota Arab Saudi Muhammad Bin Salman, Departemen Evakuasi Aeromedis Kementerian Pertahanan Layanan Kesehatan langsung mengevakuasi warganya yang terdampak COVID-19.

Tak hanya pemulangan dan evakuasi, sejumlah negara lain juga melarang warganya untuk ke Indonesia dan menutup pintu untuk kedatangan penerbangan dari Tanah Air. Seperti Singapura yang merilis aturan baru terkait WNI dan wisatawan dari Indonesia akibat parahnya situasi COVID-19.

“Melihat memburuknya situasi di Indonesia, kami akan memperkuat kebijakan-kebijakan di perbatasan untuk traveler dari Indonesia dengan mengurangi persetujuan masuk bagi non-Singapore Citizens/Permanent Resident dengan efek secepatnya,” Kementerian Kesehatan Singapura mengumumkan. Pelancong dari Indonesia pun dilarang transit di Singapura mulai Senin 12 Juli 2021.

Sejak Sabtu 10 Juli, Uni Emirat Arab (UEA) juga melarang warganya datang ke Indonesia dan Afganistan, serta melarang kedatangan dari dua negara itu. Dilaporkan Gulf News, transit bagi penumpang dari Indonesia juga dilarang. Namun, transit bagi penerbangan menuju UEA, atau penerbangan menuju Indonesia tidak dilarang.

Presiden Filipina Rodrigo Duterte menyusul memberlakukan larangan penerbangan masuk dari Indonesia atau mereka yang memiliki riwayat perjalanan ke Indonesia dalam 14 hari terakhir sebelum kedatangan ke Filipina, di tengah lonjakan kasus COVID-19 negara tetangga. Juru bicara kepresidenan Filipina Harry Roque mengatakan larangan tersebut berlaku untuk Indonesia mulai 16 Juli 2021 pukul 12.01 dan berakhir 31 Juli 2021 pukul 11.59 malam.

Penumpang yang sudah transit dari Indonesia dan semua orang dengan riwayat dari Indonesia dalam waktu 14 hari sebelum kedatangan ke Filipina yang tiba sebelum 16 Juli pukul 12.01, masih akan diizinkan masuk ke negara tersebut. Kendati demikian akan diminta untuk menjalani karantina penuh selama 14 hari dan menunjukkan hasil Reverse Transcription – Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) negatif.

Paling baru, Inggris memasukkan Indonesia ke dalam red list atau daftar merah yang merupakan saran untuk tidak memasuki Inggris. “Mulai jam 4 pagi pada hari Senin, 19 Juli Indonesia akan masuk ke daftar merah untuk memasuki Inggris,” seperti tertulis dalam laman web resmi pemerintah Inggris, gov.uk.

Pakar penyakit menular atau epidemiolog dan dosen di Griffith University Australia, Dicky Budiman menilai pemulangan warga asing dan larangan penerbangan dari Indonesia bukan sesuatu yang baru. Saat terjadi ledakan kasus COVID-19 di Wuhan, hampir semua negara termasuk Indonesia juga mengevakuasi warganya dan menutup pintu masuk untuk penerbangan dari China.

Menurut Dicky, negara-negara yang mengevakuasi dan melarang penerbangan dari Indonesia, memiliki deteksi dan prediksi lebih cepat untuk merespons situasi pandemi di suatu negara.

“Artinya hal ini memang prediksi itu sama, saya sebagai epidemiolog bisa memprediksi itu, dan epidemi lain di negara-negara lain juga pastinya sama dengan prediksi terkait situasi yang akan memburuk dalam 2-3 minggu ke depan,” ujarnya saat dihubungi Liputan6.com.

“Kita tidak bisa terus menyangkal kalau situasi lagi baik-baik saja, tidak bisa. Karena kita sendiri yang akan merugi,” ia menegaskan.

Artinya, jelas Dicky, kalau menyangkal keadaan seperti ini dengan menyebut terkendali, sama saja dengan tidak waspada. Bahkan sisi strategi pengedalian pandemi tidak akan timbul dan itu buruk serta mencelakakan.

“Jadi ini sebagai pengingat saja, yang menguatkan prediksi bahwa situasi memburuk harus segera dimitigasi, diantisipasi supaya tidak menjadi lebih buruk lagi dan mengarah ke skenario terburuk dalam penanganan pandemi ini,” ungkap Dicky.

Tekait skenario terburuk, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan menyatakan, pemerintah telah menyiapkannya. Menurut dia, kondisi penyebaran varian delta COVID-19 di Tanah Air saat ini sebenarnya sudah masuk worst case scenario, dengan terus mencatat rekor terbaru hingga lebih dari 56 ribu kasus pada Kamis 15 Juli 2021.

“Kita berharap jangan lebih daripada 60 ribu kasus, karena itu nanti musti ada perkiraan lain lagi,” ujar Luhut dalam sesi teleconference.

Namun, Luhut mengatakan, pemerintah juga sudah bersiap andaikan penyebaran kasus COVID-19 suatu hari nanti tembus ke angka 60 ribu kasus per hari.

“Kalau kita bicara worst case scenario untuk 60 ribu atau lebih sedikit, kita masih sudah cukup oke. Kita tidak berharap sampai ke 100 ribu, tapi itu pun sudah kami rancang sekarang kalaupun sampai terjadi di sana,” tuturnya.

Pemerintah disebutnya terus berupaya keras agar skenario terburuk itu jangan sampai terjadi. Oleh karenanya, Luhut meminta segenap masyarakat untuk ikut membantu dengan tidak menyebarkan informasi tak jelas soal penularan COVID-19.

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close