Tech

Prospek Gacor dari Bisnis Jasa Video Editor

MILENIALPOS.com – Di era digital yang penuh dengan gambar dan suara, usaha video editor menjadi pilar tak tergantikan bagi setiap pencipta konten. Sebuah tempat di mana setiap klip diperhalus, setiap transisi disusun dengan presisi, dan setiap momen dihidupkan melalui sentuhan kreatif.  Para video editor mempunyai keahlian untuk mengolah dan menyunting video menjadi karya yang menakjubkan, mulai dari memotong klip hingga menambahkan efek khusus, mereka menciptakan cerita visual yang memikat. Dalam industri di mana kreativitas bertemu dengan teknologi, video editor adalah pilar utama yang menghidupkan setiap momen dengan keajaiban visual. Salah satu orang yang menggeluti jasa ini adalah Muhammad Bagir (22). Dia memutuskan untuk membuka jasa video editor karena sesuai dengan jenjang pendidikannya yakni di salah satu SMK jurusan multimedia di Jakarta. Laki-laki yang akrab disapa Bagir ini mau menjadi video editor karena segudang ilmu yang dia peroleh selama sekolah ingin diterapkan.

Awalnya dia tidak terlalu berharap soal penghasilan yang akan diperoleh, namun pria ini tidak menyangka bahwa keuntungan yang dihasilkan terbilang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. “Awal mula saya membuka jasa ini hanya bermodalkan handphone dan perangkat lain seadanya,” ujar Bagir. Pekerjaan ini dia lakukan sejak lulus sekolah dan merupakan pekerjaan sampingan. Meski demikian, hingga saat ini Bagir sangat mengandalkan usahanya tersebut karena keuntungan yang dihasilkan bisa mengisi dompetnya. Dia mengatakan bahwa untuk sekali projek yang diterima bisa menghasilkan Rp100.000 hingga Rp150.000 tergantung dari tingkat kesulitan dan kesepakatannya bersama dengan konsumen. Video yang dia edit biasanya untuk konten promosi produk di platform media sosial seperti TikTok dan Instagram. “Untuk saat ini saya baru ada rencana mau upgrade perangkat seperti beli laptop yang mumpuni jadi bisa lebih mudah dan semakin produktif dalam edit video,” kata Bagir. Di tempat lain, ada Yosha Saddam (25) yang juga membuka jasa video editor karena tertarik dengan dunia editing. Tidak seperti dengan Bagir, Yosha bisa menjadi video editor belajar secara autodidak lewat Youtube dan berbagai konten tentang edit video. Awal mula dia merintis usaha ini dengan membuka jasa di online shop seperti Shopee dan mengiklankan jasanya lewat akun media sosial pribadinya. Tidak hanya itu, dalam mengembangkan jasanya dia memakai cara getok tular atau dari mulut ke mulut agar bisa menjangkau lebih luas. “Tarif yang saya patok itu diantara harga Rp50.000 sampai Rp100.000 berdasarkan paket yang saya buat. Saya buat paket agar bisa memudahkan saya dan para konsumen dalam membuat kesepakatan dari projeknya,” ucap Yosha. Pria berkacamata ini juga mengerjakan proses edit video lewat ponsel yang dia miliki. Ponsel tersebut dia khususkan untuk melakukan pekerjaannya yang berisi berbagai macam aplikasi untuk mengedit video. “Sejauh ini saya tidak terlalu merasa kesulitan ketika mengedit lewat handphone dan bagi saya, menjadi video editor tidak harus menunggu untuk mempunyai perangkat yang memadai, modal utama dari usaha ini adalah kreativitas yang dimiliki editor,” tutur Yosha. Yosha juga mengatakan kepada orang-orang yang ingin memulai usaha ini agar tidak perlu ragu hanya karena perangkat yang terbatas. Baginya, cukup dengan perangkat seadanya untuk bisa mengedit video bisa menghasilkan keuntungan yang lumayan. Sementara itu di sisi lainnya, terdapat Bayu Setiawan (29) yang menjadi video editor sudah mencapai 6 tahun saat dia masih berkuliah. Berbeda dengan kedua orang sebelumnya, laki-laki yang biasa dipanggil Bayu ini merupakan video editor yang lebih profesional. Perangkat yang dia miliki juga terbilang memadai hingga bisa mendapat kontrak dari beberapa perusahaan untuk menjadi video editor dalam berbagai acara agenda. Konten yang disajikan pun beragam, mulai dari gabungan beberapa foto yang dikemas jadi video pendek, video sederhana, hingga video estetis yang direkam menggunakan kamera canggih dan melalui proses editing yang serius.  “Dalam satu projek saya bisa memperoleh keuntungan Rp300.000 sampai Rp500.000, tapi kalau terikat kontrak penghasilan yang saya peroleh bisa mencapai Rp5 juta hingga Rp7 juta dan semua itu tergantung kesepakatan kita dengan klien,” ujar Bayu. Bayu mengatakan dalam memproses video yang diedit membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Paling cepat bisa 3 hari dan paling lama bisa seminggu tergantung tingkat kesulitan dari setiap konsep video yang dia edit. “Tantangan yang saya alami itu ketika mencari konsep yang harus sesuai dengan kemauan konsumen, belum lagi ketika suasana hati sedang tidak baik, itu bisa memperlambat proses edit video,” kata Bayu Menurutnya, jasa ini akan bisa terus bertahan bahkan bisa lebih berkembang karena banyaknya content creator dan pengusaha dari industri lain yang membutuhkan jasa video editor. Terlepas dari beragamnya aplikasi editing dan template yang siap pakai, Bayu menganggap tidak semua bisa mengoperasikannya dan mempunyai waktu untuk mengedit, disitulah peran video editor dibutuhkan.

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close