Editorial

Mengenal Penyair Chairil Anwar, Sosok Penting Di Balik Hari Puisi Nasional

MILENIALPOS.com – Hari Puisi Nasional diperingati pada 28 April 2024 tiap tahunnya. Perayaan ini menjadi momentum bagi para pegiat sastra untuk mengapresiasi sekaligus merayakan karya-karya puisi dari para penulis Indonesia yang telah memperkarya budaya bangsa. Hari Puisi Nasional pun erat kaitannya dengan penyair Chairil Anwar.

Melansir dari Kemdikbud, penetapan Hari Puisi Nasional tiap tanggal 28 April 2024 merujuk pada hari kepergian Chairil Anwar yakni pada 28 April 1949. Hari Puisi Nasional pun dibuat untuk mengenang sosok sang sastrawan. Sebagai penyair, pria yang dijuluki “Si Binatang Jalang” itu dianggap sebagai salah satu tokoh yang memberikan sumbangan besar dalam perkembangan puisi modern Indonesia.

Pemilihan tanggal 28 April sebagai Hari Puisi Nasional juga memiliki makna simbolis mendalam. Jika banyak hari peringatan nasional ditentukan berdasarkan hari kelahiran sang tokoh, Hari Puisi Nasional justru memilih tanggal wafat Chairil Anwar sebagi bentuk penghormatan terhadap karya dan jasa-jasa sang penyair.

Selain itu, pemilihan tanggal wafat Chairil Anwar untuk diperingati sebagai Hari Puisi Nasional juga dapat diartikan sebagai bentuk dramatisasi layaknya unsur dalam puisi. Peringatan tersebut tidak hanya sebagai momen mengenang, melainkan juga sebagai ajakan untuk merenungkan makna-makna dalam karya-karya puisi, serta membangkitkan semangat berpuisi di tengah masyarakat Indonesia.

Chairil Anwar merupakan penyair yang dinobatkan sebagai Pelopor Angkatan ’45 melalui puisi-puisi modern Indonesia yang dia ciptakan. Chairil lahir di Medan pada 26 Juli 1922 dari keluarga terpandang yang berasal dari Payakumbuh, Sumatra Barat. Ayahnya bernama Toeloes yang bekerja sebagai ambtenar (pegawai negeri) pada masa kolonial dan tahun 1948 menjadi Bupati Rengat, sementara ibunya bernama Saleha yang lahir dan besar di Kota Medan.

Chairil menempuh pendidikan di Neutrale Hollands Inlandsche School (HIS) dan melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) meskipun hanya sampai kelas satu. Saat merantau ke Jakarta, dia kembali masuk MULO, dan mulai banyak membaca buku-buku setingkat HBS (Hogere Burger School).

Namun, Chairil hanya dapat mengikuti MULO sampai kelas dua setelah itu dia belajar secara otodidak seraya memperdalam bahasa Belanda, Inggris, dan Jerman. Kepiawaian dalam menguasai berbagai bahasa inilah yang justru membuka wawasan Chairil dalam mempelajari karya-karya sastra dunia.

Menukil dari situs Ensiklopedia Sejarah Indonesia, perjalanan Chairil sebagai penyair dimulai pada tahun 1942, dengan sajak pertamanya berjudul “Nisan” dilanjut dengan “Penghidupan”. Pada tahun 1943, sajak berjudul “Aku” diciptakan Chairil dan menjadi salah satu puisinya yang paling populer dan dikenal hingga kini. Puisi itu dianggap menggambarkan semangat, keberanian, dan kesetiaan dalam menghadapi kehidupan.

Sejak muda, Chairil sudah memiliki pandangan dan sikap hidup yang sangat idealis tak tergoyahkan. Hal tersebut ditandai dengan sikapnya yang tegas menolak bergabung dan menjadi alat propaganda politik pada masa pendudukan Jepang. Bahkan, saat perang kemerdekaan, Chairil giat menulis sajak untuk memberi semangat para pejuang dengan pemilihan kata-kata yang lantang dan penuh semangat revolusi.

Bersama para pemuda yang berkumpul di Kawasan Menteng 31, dia beberapa kali pulang-pergi ke daerah Karawang, Bekasi, sebagai salah satu wilayah pertempuran pada awal kemerdekaan.
Pengalaman tersebut kemudian menginspirasi puisi “Krawang-Bekasi” yang ditulisnya pada 1948.

Selain itu, sajak-sajak yang diciptakan sang penyair juga tak lepas dari dinamika sosial politik dan budaya pada zamannya, seperti “Diponegoro” (1943), yang menggambarkan spirit perjuangan. Sikap idealis tersebut ditunjukkan dalam kesehariannya, misalnya tetap konsisten hanya ingin mendapatkan penghasilan sebagai penyair melalui sajak-sajak. Meskipun sikap tersebut berdampak terhadap kehidupan keluarganya terumata dari segi ekonomi.

Salah satu sumbangan penting Chairil terhadap perkembangan sastra Indonesia yakni pembentukan genre baru karena sajak-sajaknya dianggap menghembuskan jiwa, semangat dan cita-cita muda, bersifat memperbarui, dinamis dan menggerakkan. Chairil juga dianggap mewakili bahkan mendahului segala apa yang hidup di sanubari angkatan muda pada zamannya, sehingga dinobatkan sebagai Pelopor Angkatan 45.

Selain dinobatkan sebagai Pelopor Angkatan 45 melalui sajak-sajaknya, dia dianggap memberikan sumbangan lain terhadap penggunaan bahasa Indonesia, karena berbagai peristiwa keseharian yang menjadi sumber inspirasi Chairil, dituliskan dengan penggunaan bahasa keseharian yang singkat dan tegas tapi berbobot.

Tak hanya itu, karya-karya Chairil juga memberi sumbangan penting dalam pembentukan Indonesia baru, serta mempertahankan cita-cita mulia tentang bahasa Indonesia dalam bentuk hubungan yang paling dalam yaitu puisi. Selain sebagai penyair, Chairil Anwar juga pernah menjadi redaktur “Gelanggang”.

Meskipun meninggal di usia yang terbilang muda yakni 27 tahun, Chairil dianggap sebagai salah satu penyair yang produktif. Menurut catatan sejarah, sepanjang tahun 1942-1949, dia sudah menciptakan 70 sajak asli, 10 sajak terjemahan, 6 prosa asli, dan 4 prosa terjemahan.

Secara keseluruhan, ada 94 karya yang diciptakannya. Ditambah kumpulan surat-surat untuk sastrawan H.B. Jassin sebanyak enam surat yang dibuat antara tahun 1943-1944.

Sajak-sajak Chairil juga banyak dimuat di banyak media cetak baik majalah maupun surat kabar. Beberapa karyanya yang sudah dipublikasikan antara lain Kumpulan Sajaknya: Deru Campur Debu (1949), Kerikil Tajam dan yang Terampas dan yang Putus (1949), dan Tiga Menguak Takdir (bersama Rivai Apin dan Asrul Sani, 1950).

Adapun, sajak-sajaknya yang lain, sajak-sajak terjemahannya, serta sejumlah prosanya dihimpun H.B. Jassin dalam buku Chairil Anwar Pelopor Angkatan 45 (1956) dan Aku Ini Binatang Jalang (1986). Selain menulis sajak, Chairil juga menerjemahkan beberapa karya sastra dunia, diantaranya Pulanglah Dia Si Anak Hilang (karya Andre Gride, 1948) dan Kena Gempur (karya John Steinbeck, 1951).

Termasuk, sajak-sajaknya juga banyak yang diterjemahkan ke bahasa Inggris, antara lain terjemahan Burton Raffel: Selected Poems (of) Chairil Anwar (1962), dan The Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar (1970), Liauw Yock Fang (dengan bantuan H.B. Jassin): The Complete Poems of Chairil Anwar (1974), sedangkan ke dalam bahasa Jerman diterjemahkan oleh Wakter Karwath, Feuer Und Asche (1978) (Anwar, 1986: 131).

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close