Editorial

Hilmar Farid Terbitkan Buku Perang Suara: Bahasa dan Politik Pergerakan, Hasil Skripsi 30 Tahun Silam

MILENIALPOS.com РMemahami politik Indonesia saat ini bergantung pada pengetahuan tentang kelompok pergerakan. Dalam bukunya Perang Suara: Bahasa dan Politik Pergerakan, Direktur Jenderal Kebudayaan RI Hilmar Farid menggambarkan pembentukan ide politik pada era pergerakan melalui analisis bahasa.

Perang Suara: Bahasa dan Politik Pergerakan merupakan hasil penelitian dari Hilmar Farid yang ditulis dan dijadikan skripsi olehnya 30 tahun silam. Diketahui, Hilmar pernah mengenyam pendidikan sarjana mengambil jurusan Sejarah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia pada 1993. Kini, skripsi tersebut diterbitkan menjadi buku oleh penerbit Komunitas Bambu.

Dalam buku tersebut, pembaca dapat memahami bagaimana cara kaum pergerakan membahasakan secara kontekstual gagasan-gagasan modern yang sama sekali baru untuk masyarakat Hindia-Belanda. Gagasan-gagasan tersebut kemudian menciptakan konsolidasi kekuatan-kekuatan sosial dalam masyarakat sehingga melahirkan organisasi politik, pemogokan dan bahkan perlawanan bersenjata.

Persoalan bahasa menjadi sangat penting untuk menjawab pertanyaan tersebut. Bahasa bukan sekadar alat penyampai gagasan yang statis. Lebih dari itu, bahasa adalah medan perang bagi gagasan-gagasan. Pertentangan antara kekuatan-kekuatan sosial dalam masyarakat dapat dilihat pada kemunculan, perkembangan hingga hilangnya kosakata tertentu.

Di Hindia Belanda pada abad ke-20, pertentangan ini mendapat panggung pada surat kabar. Pergolakan sosial dan perkembangan dunia cetak-mencetak akibat kapitalisme menjadi landasan rakyat bumiputra untuk bersuara lewat tulisan. Kekuasaan kolonial pun bereaksi dengan bersenjatakan bahasa.

Hilmar Farid mengatakan buku Perang Suara: Bahasa dan Politik Pergerakan menguraikan hubungan antara bahasa, ideologi dan hegemoni politik pada masa pergerakan. Cara rakyat mengartikan persoalan sosial dan posisi mereka sendiri dalam berhadapan dengan persoalan tersebut, serta bagaimana sebenarnya gagasan digerakkan di dalam kenyataan dan hubungannya dengan perkembangan politik.

“Sejarah kerap dilihat bergerak linier, sementara dari pengamatan terhadap apa yang mereka [kaum pergerakan] katakan dan lakukan, prosesnya sama sekali tidak linier. Sejarah itu terjadi tidak karena kebetulan, tetapi ada proses-proses politik yang luar biasa,” katanya dalam acara peluncuran buku Perang Suara: Bahasa dan Politik Pergerakan di Pos Bloc Jakarta, Minggu (21/1/2024), yang disiarkan ulang di YouTube.

Hilmar menjelaskan buku Perang Suara: Bahasa dan Politik Pergerakan lebih menyoroti gejolak peristiwa pergerakan yang terjadi pada 1927-1928 yang menurutnya narasi sejarahnya jarang muncul ke permukaan menjadi bahan diskusi. Masa-masa itu, paparnya, adalah momentum mulai mengkristalnya ide dan gagasan dari para kaum pergerakan tentang kehidupan bangsa modern yang baru yang sudah dipikirkan sejak awal 1920-an.

Hal tersebut ditandai dengan banyaknya peristiwa pergerakan, pemogokan, dan radikalisasi di sejumlah daerah. Fenomena itu membuat pemerintah kolonial turun tangan serta menangkap dan membuang orang-orang yang dianggap radikal ke daerah-daerah antah berantah, salah satunya Boven Digoel. Dua diantara para tokoh tersebut ialah Sutan Syahrir dan Muhammad Hatta.

“Panggung politik setelah periode itu berubah, orang-orangnya berbeda. Dari yang tadinya semua diekspresikan secara langsung menggunakan bahasa Melayu kacau yang memperlihatkan energi yang original, penyampaian bahasanya jadi mulai diformalisasi justru ketika Sumpah Pemuda terjadi pada 1928,” paparnya.

Kondisi semacam ‘penertiban’ bahasa ini pada akhirnya menciptakan suasana penyampaian gagasan dengan bahasa yang lebih rapi, tapi di saat yang bersamaan energi pergerakan yang muncul pada awal abas ke-20 perlahan surut.  Hal ini ditandai salah satunya dengan munculnya angkatan sastra Pujangga Baru yang dinahkodai oleh Sutan Takdir Alisjahbana dan Armijn Pane.

“Bahasanya sudah mengalami satu pembakuan yang luar biasa, tapi akhirnya Chairil Anwar mendobrak. Chairil justru kembali ke energi awal abad dua puluh dengan energi kreatif dan ledakan-ledakannya,” kata pria yang dikenal sebagai sejarawan juga itu.

Hilmar mengungkapkan bahwa sebelum diterbitkan menjadi buku, arsip-arsip skrispsinya sempat tercecer lantaran tidak disimpannya secara serius. Beruntung, dosen pembimbing skripsinya di kampus telaten menyimpan berkas-berkas skripsinya. Plus, kala itu, dia juga perlu untuk menyiapkan berkas skripsi untuk keperluan pengambilan ijazah.

“Ketemu skripsinya kemudian diketik ulang diserahkan ke kampus. Setelah itu, skripsinya mulai beredar dari tangan ke tangan, pada akhirnya jatuh ke teman-teman Komunitas Bambu dan paksaan untuk menerbitkannya pun akhirnya muncul,” imbuhnya.

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close